tentang gelap
Malam bagi saya tidaklah sekadar gelap, tetapi juga juga menyimpan rasa sakit. Seperti kulit yang tersayat lapis silet. Saya hanya bisa merasakan perih setiap malam datang. Sekalipun langit penuh bintang atau angin berembus halus. Selalu begitu sejak usia saya melewati angka tujuhbelas. Telah berdustakah sang pujangga Lebanon, karena ternyata saya bukanlah anak panah yang melesat dari busur. Saya seperti burung gereja dengan satu kaki dibebat rantai, dan cuma bisa bersiul irama requiem. Saya tak bisa mengepakkan sayap, apalagi untuk terbang jauh. Saya lelah mencari jawaban tentang kekejian sosok yang di tapak kakinya tersimpan sorga. Salahkah saya membenci ibu, juga ayah yang pengecut?
.....
pagi nanti aku akan mulai sibuk menyiapkan susu, dan makanan untuk buah hatiku, aku baru sadar ternyata menjadi orang tua itu lebih repot ketimbang menjadi seorang yang single.
nampaknya saya harus siap-siap tidur, malaikat kecil ku sudah bergeliat malas di tempat tidur nya ini saat nya aku menciumi diri-nya..
love, momy










